1. Kehangatan di Tengah Ketegangan: Ketika Sat Brimob Sumut Rangkul Ojol dan Pengunjuk Rasa
Kabar Binjai – Kehangatan di Tengah ratusan pengemudi ojol berkumpul di depan Mako Brimob Polda Sumut, Medan, untuk menyampaikan tuntutan keadilan atas meninggalnya rekan mereka, Affan Kurniawan. Situasi yang awalnya menegangkan berubah menjadi momen penuh kehangatan saat Kombes Pol Rantau Isnur Eka, Dansat Brimob Polda Sumut, hadir di tengah massa dan membagikan bunga sebagai simbol belasungkawa dan hormat. Tindakan sederhana itu memperlihatkan penghormatan mendalam bagi korban dan keluarga, sekaligus meredam ketegangan yang bisa saja memanas
2. Komitmen Sikap Humanis – Siap Mundur Jika Arogan
Lebih dari sekadar simbol, pernyataan tegas dari Dansat Brimob juga mencuri perhatian. Kombes Rantau menekankan bahwa tidak akan ada tindakan arogan dari anggotanya dalam mengamankan demonstrasi. Bahkan, ia menyatakan bahwa dirinya siap mundur jika ternyata ada anggota yang bersikap tidak sesuai SOP. Ini bukan sekadar politik basa-basi, tetapi cerminan kesungguhan menjaga keamanan sambil tetap menegakkan humanisme
Baca Juga: Menangis di Bahu Kapolri, Keluarga Affan Ojol Tewas Ditabrak Mobil Brimob, Ternyata Tulang Punggung
3. Kehangatan di Tengah Aspirasi Disampaikan – Janji Disampaikan ke Jakarta
Ini adalah bentuk kolaborasi nyata antara aparat dan masyarakat yang mencari solusi, bukan benturan
4. Suara Ojol: Kemarahan dan Kerinduan Akan Keadilan
Meski kebijakan humanis diterapkan, tetap terasa tensi emosional. Para driver ojol meneriakkan kata “pembunuh”, menimba rasa kehilangan atas meninggalnya Affan. Namun, hal ini menjadi lebih bermakna karena lahir dari rasa sakit dan keinginan mendapatkan pertanggungjawaban yang jelas dan terbuka
Refleksi: Humanisme di Garis Depan, Bukan Reaksi Kilat
Empati berimbang antara penegakan hukum dan hak asasi
Langkah seperti pembagian bunga dan bacaan doa menunjukkan bahwa kekuatan tak harus selalu represif. Kadang, tindakan paling efektif adalah yang paling manusiawi.
Ketegasan untuk mundur jika ada pelanggaran adalah bentuk integritas kepemimpinan yang langka, bahkan di dunia politik saat ini. Ini memberi pesan bahwa otoritas bisa bekerja dengan hati, bukan hanya kewenangan.
Perlunya jalur dialog terbuka
Polisi tidak hanya bertugas mengamankan, tetapi juga mendengarkan. Melembutkan ketegangan dengan komunikasi nyata bisa jadi jembatan menuju penyelesaian damai.
Kesimpulan
Saat dunia sedang berkabung atas tragedi Affan Kurniawan, hadirnya momen hangat seperti ini—di mana Sat Brimob Polda Sumut tak hanya menjaga keamanan tapi juga merangkul korban sisanya—adalah kilau harapan di saat gelap. Ini bukan hanya tentang bagaimana menangani rasa duka, tapi juga bagaimana meresponsnya dengan kemanusiaan yang mendalam.











