Shoppe Mall
Shoppe Mall
Shoppe Mall Shoppe Mall Shoppe Mall

Di Kutablang Nasi Perang Telur Dibelah Empat Laporan Perjalanan Pascabanjir dari Banda Aceh

Shoppe Mall

Di Kutablang Nasi Perang Telur Dibelah Empat: Catatan Perjalanan Usai Banjir dari Banda Aceh

Kabar Binjai – Di Kutablang Nasi Perang Banjir yang melanda sebagian wilayah Aceh beberapa waktu lalu menyisakan jejak lumpur di jalanan dan deretan rumah yang masih sibuk dibersihkan warganya. Namun di tengah suasana pemulihan, kehidupan kembali bergerak pelan—dan salah satu penanda kembalinya aktivitas itu terasa jelas ketika saya singgah di sebuah warung sederhana di Kutablang. Di situlah saya menemukan kembali hidangan khas yang selalu menjadi penghangat perjalanan: nasi perang dengan telur yang dibelah empat.

Kutablang yang Mulai Bangkit

Perjalanan dari Banda Aceh menuju kawasan pedalaman pascabanjir membawa pemandangan yang beragam. Beberapa titik jalan masih tergenang sisa air, sementara alat berat sibuk memperbaiki bahu jalan yang tergerus. Rumah-rumah warga menunjukkan bekas garis air di dinding, namun para penduduk tampak bersemangat membersihkan puing dan menjemur barang-barang yang bisa diselamatkan.

Shoppe Mall

Di tengah kondisi yang belum sepenuhnya kembali normal, Kutablang terasa seperti oase kecil. Warung-warung makan mulai buka kembali, menandakan bahwa roda ekonomi perlahan berputar.Di Kutablang, Nasi Perang Telur Dibelah Empat, Laporan Perjalanan  Pascabanjir dari Banda Aceh - Halaman 4 - Serambinews.com

Baca Juga: PLN Percepat Pemulihan Listrik Aceh Lewat Kolaborasi Instansi

Nasi Perang: Untuk Perut Lapar Para Musafir

Warung yang saya sambangi tidak besar, hanya berisi empat meja kayu dengan bangku panjang. Aroma daun kari dan cabai tumis langsung menyambut sejak pintu terbuka. Sang penjual—seorang ibu paruh baya—menawarkan menu khasnya: nasi perang dengan tambahan telur rebus yang dibelah empat.

Nasi perang sendiri adalah sajian sederhana namun penuh karakter: nasi hangat, sambal pedas menyengat, lauk pauk rumahan, dan kadang tambahan kuah gulai yang diciduk sedikit saja. Telur rebus yang dipotong empat bagian, lalu disiram bumbu tumis berbahan bawang, cabai merah, dan sedikit minyak kelapa, membuat rasanya semakin kuat dan menggugah selera.

“Sesudah banjir, banyak orang lewat sini mencari makan cepat,” kata sang ibu sambil menyendok nasi ke piring. “Nasi perang ini sudah seperti penyemangat mereka.”

Menghangatkan Tubuh di Tengah Lelah Perjalanan

Setelah beberapa hari hujan deras, udara Kutablang masih terasa lembap dan dingin. Namun satu suap nasi perang segera menghangatkan tubuh. Rasa pedasnya tidak agresif, tetapi perlahan naik dan memberi tenaga baru. Telur yang dibelah empat menjadi perpaduan sempurna, menyeimbangkan rasa sambal yang tajam.

Di luar warung, truk-truk yang membawa bantuan dan pekerja perbaikan infrastruktur terus melintas. Para sopir mampir sebentar, mengisi perut sebelum kembali ke jalur yang masih perlu diperbaiki. Di meja sebelah, seorang warga yang rumahnya masih tergenang lumpur berkata, “Makan begini rasanya bikin semangat muncul lagi.”

Mengenang, Memulihkan, dan Melanjutkan Perjalanan

Kutablang, dengan segala kesederhanaannya, menjadi ruang kecil untuk beristirahat dan mengamati bagaimana masyarakat Aceh kembali menata kehidupan setelah bencana. Suapan demi suapan nasi perang terasa bukan sekadar makanan, tetapi simbol keteguhan dan ketahanan warga menghadapi kesulitan.

Perjalanan pascabanjir dari Banda Aceh mungkin masih panjang, tetapi singgah di warung kecil ini memberikan pelajaran bahwa pemulihan tidak melulu tentang membangun infrastruktur. Kadang, ia dimulai dari meja makan—dari nasi hangat, bumbu pedas, dan telur rebus yang dibelah empat.

Shoppe Mall